Laman

Rabu, 28 Desember 2011

Editorial: Sebuah Rangkuman "Tepat Mendidik Anak"

Berdasarkan statistik kepadatan penduduk yang dibuat oleh CIA (Central Intelligence Agency), terdapat 245,613,043 penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada bulan Juli 2011. Dan 27.3 persen darinya adalah anak-anak berusia 0-14 tahun, atau dapat dikatakan 34,165,213 dari mereka berkelamin laki-laki dan 32,978,841 berkelamin perempuan. Hal ini berindikasi pada jumlah anak-anak Indonesia yang melimpah ruah, juga berpengaruh besar kepada banyaknya generasi penerus bangsa yang menjadi fase estafet masa depan tanah air yang kita cintai ini. Otomatis, nantinya akan ada begitu banyak arsitek, ekonom, atase militer, guru, atau bahkan apa saja, di Indonesia nantinya sebagai penerus tonggak perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan, maupun ilmu pengetahuan. Akan tetapi, apakah cukup sesederhana itu?
Dewasa ini, pola kehidupan sosial kemasyarakatan, khususnya di tanah air kita ini ternyata sudah terlalu dihanyutkan oleh peradaban yang sekuler, liberalis, dan materialis. Karena terlalu pekatnya pengaruh ideologi impor ini di dalam lingkungan – baik mikro maupun makro – sampai-sampai kita menjadi semakin jauh dan lupa akan identitas kita sebagai “makhluk sosial” yang ramah, sopan, gemar bergotong-royong, dan segala adat ketimuran yang telah dirumuskan dan diwariskan oleh generasi terdahulu, baik secara tersurat maupun tersirat. Dan bagian dari klasifikasi demografis Indonesia yang paling terkena dampaknya adalah anak-anak. Apa betul begitu? Ada baiknya kita membuka mata dan telinga kita untuk memperhatikan lingkungan sekitar.
Anak-anak begitu keluar dari rumahnya, harus menghadapi segala macam fenomena sosial yang terpampang jelas di depan mata polos mereka; dimulai dari mobil antar-jemput sekolah yang telat datang, pertengkaran antara supir angkutan umum dengan pengendara mobil pribadi yang mereka saksikan saat macet di jalan, guru yang menggunakan waktu mengabdinya di dalam kelas untuk “berkeliaran” di dunia maya lewat akun dari situs jejaring sosial mereka, dan masih banyak lagi. Dan itu sungguh memprihatinkan, khususnya bagi mereka yang masih memiliki rasa kepedulian akan masa yang akan datang.
Belum lagi kejadian demi kejadian yang berlangsung di dalam lingkup keluarga, yang seharusnya menjadi tempat mereka mengharapkan perlindungan. Kita terkadang tidak menyadari bahwa meskipun itu sebuah keluhan atau kebiasaan buruk yang kita anggap biasa saja, namun justru hal-hal seperti itulah yang menjadi pengaruh paling dominan yang memberi dampak bagi cara mereka dalam menjalani hidup mereka ke depan nantinya. Jadi sangatlah jelas apabila kita katakan seorang anak tidak ubahnya seperti selembar kertas polos tanpa noda. Children see, children do. Pola pikir dasar manusia, dari mulai usia 0-13 tahun adalah meniru. Mereka cenderung melakukan apa saja yang mereka saksikan dengan mata dan telinga mereka. Apa pun itu. Tidak peduli apakah hal yang mereka lakukan itu baik atau buruk, karena mereka belum mengetahui apa batasan yang membuat sesuatu dinilai baik atau buruk.
Sejenak mari kita renungkan makna dari sebuah pepatah, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Bukan karena setiap buah yang jatuh pasti dekat dari pohon yang menghasilkannya. Akan tetapi karena buah adalah sebuah proses regenerasi akibat dari reproduksi pohon tersebut. Buah juga merupakan suatu kumpulan rekaman dari setiap hal yang pernah dialami oleh sang pohon; akar yang dapat mencengkeram tanah, daun yang dapat mengkonversi karbon dioksida menjadi oksigen, dahan yang tumbuh ke atas menuju arah sinar matahari, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan seorang anak. Anak kecil yang terlahir di dalam keluarga yang proaktif, misalnya, kelak apabila dia besar nanti ia akan bersifat proaktif pula pada lingkungannya. Ini dikarenakan pola memperhatikan dan meniru adalah sifat dasar dari seorang manusia, siapa pun orangnya. Karena keluarga, khususnya orangtua, adalah guru pertama mereka. Segala hal yang pernah mereka lihat dari orangtuanya; cara berterima kasih, mengucapkan salam, makan dan minum, maupun berbicara. Di fase inilah orangtua harus menjadi orang yang teramat baik dan menekan kecenderungan buruk yang biasanya mereka lakukan, demi perkembangan pola pikir dan psikologis anak mereka. Mereka juga harus memperhitungkan kehadiran anak sebagai salah satu bagian dari diri mereka secara obyektif dan proporsional. Tidak kurang dan tidak juga berlebih.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang ibu bernama Asih. Anaknya di saat berusia dini (< 4 tahun) memiliki kepercayaan diri yang menonjol. Namun kepercayaan diri anaknya ini perlahan berkurang saat ia memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Kejadian yang dialami oleh anak Ibu Asih ini bisa saja terjadi pada anak mana pun. Kenapa hal tersebut dapat terjadi?
Kunci masalah, lagi-lagi, terletak pada pembentuk pola pikir si anak tersebut. Keluarga. Anak, adalah suatu periode pembelajaran. Dan tentu saja, pasti muncul masalah di dalamnya. Misalnya begini, seorang anak pada suatu hari pulang dari sekolahnya dan sampai ke rumah menjelang sore. Padahal anak ini biasanya sampai ke rumah saat siang. Dan kebetulan pula, hari itu ibunya mempercayakan kunci rumah ke anak tersebut karena ibunya harus pergi untuk suatu urusan dan meninggalkan rumah dalam keadaan sepi. Ibunya menitipkan kepercayaan kepada anaknya untuk membawa kunci rumah di saat anaknya pamit berangkat ke sekolah. Setelah pulang sekolah, di luar dugaan ia harus ikut mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya sampai sore. Setelah tugas selesai, ia pun pulang ke rumahnya. Saat sampai di rumah, ternyata si anak lupa di mana kunci tersebut ia simpan. Kunci yang menjadi bentuk amanat dari ibunya ini tidak berada di tempat ia menyimpannya. Praktis, ia akan panik luar biasa. Terbayang sudah dalam benaknya figur ibunya yang sedang marah akibat dari perbuatannya tersebut. Ia pun menangis di teras rumah, tak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Tak lama, ibunya pulang ke rumah. Ia bingung melihat anaknya menangis di teras, masih berseragam sekolah lengkap, dan tidak masuk ke rumah. Saat ia melangkah menghampiri pintu, pintu tersebut ternyata masih dalam keadaan terkunci. Ibunya kini paham, sebab yang mengakibatkan menangisnya si anak di depan rumah. Otomatis ibunya yang lelah dari perjalanannya dan ingin cepat masuk ke dalam rumah pun marah. Anaknya yang malang dimarahi habis-habisan dan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya yang luar biasa. Konsekuensinya, si anak akhirnya dihukum oleh ibunya dan ia tidak lagi diberi kepercayaan untuk sesuatu di dalam lingkup keluarga.
Inilah fungsi penting dari keluarga. Masalah ada karena hal tersebut memang harus ada. Sebagai proses pembelajaran dan penelaahan untuk menghasilkan solusi. Dengan kealfaan anak tersebut, apalagi di saat ia mengemban kepercayaan dari ibunya untuk pertama kalinya, seharusnya si ibu menyadari akan posisi masalah dalam proses pembelajaran anaknya tersebut. Seorang ibu, dalam masalah ini, memang akan mengumbar emosinya dengan memarahi anaknya. Akan tetapi, ia juga harus menyadari apa yang menyebabkan anaknya sampai pulang larut dan kehilangan kunci rumah, dan lebih bijak dan meredam emosinya yang timbul oleh karena kelelahan akibat perjalanan dan kekecewaannya terhadap anaknya.
Seorang ibu, ayah, kakak, adik, dan orang-orang dalam ruang lingkup terdekat adalah guru pertama seorang anak. Bagaimana ia harus merangkak. Bagaimana melangkah dengan benar untuk dapat berjalan. Belajar cara berlari. Dan semua itu tidak dapat mereka lakukan sendirian tanpa figur guru. Setiap orang, membutuhkan guru untuk mengetahui apa pun yang ada dan terjadi kepada dirinya. Bahkan seorang revolusionis besar, Ir.Soekarno, mendapatkan pengertian akan estetika kehidupan dari ibunya.
Bukan bangku sekolah, bukan tulisan panjang pada suatu halaman dari sebuah buku, bukan uraian lisan dari seorang guru besar dari podium seminar, yang membentuk pola pikir anak dan psikologisnya. Bukan itu. Mereka dan segala hal di luar pagar rumah berfungsi hanya sebagai pengembang, dari sebuah pola dasar yang telah ditanamkan lewat sebuah institusi yang akrab disebut dengan keluarga.
Memang, keluarga juga adalah sebuah kelompok dari individu, dengan karakter dan psikologis yang berbeda masing-masingnya, dengan problematika hidup mereka sendiri-sendiri. Akan tetapi, satu hal yang harus ditekankan pada langkah hidup kita ke depan adalah, anak tidak lain dari proses pembelajaran. Jangan melihat hasil yang didapat oleh anak dari keluarga lain, yang secara akademis berprestasi, bersosialisasi dengan baik, sukses di masa depannya. Cobalah memandang sesuatu, apa pun itu, bukan dari hasilnya. Perluas pemikiran anda pada proses yang menyebabkan pembentukan mereka menjadi seperti itu.
Seperti juga halnya kita, mereka pun juga adalah seorang manusia. Yang membedakan hanyalah usia dan pengalaman mereka. Jauhkan sikap underestimate anda. Jangan pernah lagi kita menganggap mereka tidak bisa melakukan apa yang kita harapkan. Bukan mereka tidak bisa. Mereka hanya belum bisa. Bukan pula mereka tidak mampu melakukan hal yang kita inginkan. Mereka hanya belum mampu untuk menggenapkan harapan kita kepada mereka.
Cobalah mengerti akan kondisi psikologis dan pola pikir anak. Perlu diketahui, anak kecil, atau kategori 0-13 tahun, adalah pelaku dari fase menyaksikan, merekam, dan meniru. Oleh karena itu, kurangi kebiasaan jelek kita sendiri terlebih dahulu. Karena mereka belum mengetahui dunia seluas kita. Mereka akan menganggap segala sesuatu adalah baik. Kita, sebagai individu yang kebetulan lahir lebih dahulu sebelum mereka, yang harus membimbing mereka ke arah yang seharusnya dan meminimalisir kesalahan atas setiap masalah yang sedang dialaminya.
Jangan mendidik mereka terlalu keras. Jangan pula terlalu lunak (baca: memanjakan). Bersikaplah obyektif dan sesuai porsinya. Keraslah di saat memang diperlukan. Begitu juga sebaliknya. Sikap terlalu keras tidak lebih baik dari sifat memanjakan. Dan sifat memanjakan tidak juga lebih baik dari sikap keras kita terhadap anak. Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang kita tanamkan kepada mereka, tidak hanya berdampak langsung kepada kehidupan mereka sendiri, akan tetapi juga berimbas kepada kita, keluarga mereka. Karena, kembali lagi ke paradigma pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Anak adalah buah, dan keluarga adalah pohon. Apa pun yang dihasilkan oleh seorang anak di masa depannya nanti, keluarga mereka adalah satu kumpulan individu yang paling mendapat sorotan publik disamping si anak itu sendiri. Apa pun itu bentuknya. Apakah ia seorang komandan yang toleran kepada anak buahnya, artis sinetron yang angkuh, seniman impresionis terkenal yang selalu menyumbangkan hasil dari lukisannya kepada orang yang lebih membutuhkan, orator yang selalu mencoba untuk menggugah hati pemerintah walau ia belum tahu hasilnya nanti akan seperti apa, mau pun seorang ayah yang mengayomi seluruh bagian dari keluarganya di rumah; semua itu adalah hasil dari pendidikan yang mereka dapat dari sekolah yang di dalamnya ia hidup. Rumah. Keluarga. Orangtua. Saudara.